![]() |
HM Al Amin, Ketua Bidang Kemasjidan di Masjid Tegalsari Kota Solo |
WARTAJOGLO, Solo - Di bulan Ramadan, Masjid Tegalsari Kota Solo selalu menghadirkan momen-momen spesial yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sarat dengan kebersamaan dan kekeluargaan.
Salah satu tradisi paling monumental yang pernah dijalankan di Masjid Tegalsari adalah pembunyian petasan besar bernama Bom Dul.
Tradisi ini dilakukan pada era sebelum tahun 1980-an sebagai penanda datangnya waktu berbuka puasa.
Suara dentuman Bom Dul yang menggema di sekitar masjid menjadi pertanda bagi warga bahwa saatnya berbuka telah tiba.
Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini dihentikan demi alasan keamanan.
Meski begitu, kenangan akan Bom Dul tetap hidup dalam ingatan masyarakat Solo sebagai bagian dari sejarah Ramadan di Masjid Tegalsari.
Meski Bom Dul sudah tidak lagi dilakukan, Masjid Tegalsari tetap mempertahankan tradisi lain yang tak kalah bermakna, yaitu Semaan Quran.
Kegiatan ini diadakan setiap Kamis selama bulan Ramadan, di mana jamaah berkumpul untuk membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
Selain sebagai sarana meningkatkan keimanan, Semaan Quran juga menjadi ajang silaturahmi antarjamaah.
Di tahun 2025 ini, Masjid Tegalsari menghadirkan inovasi baru dalam tradisi Ramadan mereka, yaitu acara "Madang Gedhen".
Acara buka puasa bersama ini menawarkan menu berbuka yang lebih mewah dibandingkan hari-hari biasa.
HM Al Amin, Ketua Bidang Kemasjidan Masjid Tegalsari, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan untuk memberikan pengalaman berbuka puasa yang istimewa bagi jamaah.
"Pada hari biasa, jamaah mungkin hanya mendapatkan menu sederhana. Tapi di acara Madang Gedhen, mereka bisa menikmati menu yang lebih mewah," ujar Amin pada Kamis, 20 Maret 2025.
Menu yang disajikan dalam acara Madang Gedhen diolah langsung oleh para pengurus masjid.
"Pada Kamis pertama, kita menghidangkan kare ayam yang bisa dinikmati sepuasnya oleh jamaah. Lalu di Kamis kedua, menu yang disajikan adalah rawon dengan potongan daging sapi yang melimpah," imbuh Amin.
Namun, pada Kamis ketiga, tepatnya 20 Maret 2025, ada yang berbeda. Pengurus masjid tidak memasak sendiri, melainkan membagikan nasi kotak Ayam Penyet Surabaya yang disumbangkan oleh seorang pengusaha kuliner ternama asal Solo, H. Puspo Wardoyo.
Puspo Wardoyo, pemilik brand Ayam Bakar Wong Solo, menyumbangkan 400 kotak nasi Ayam Penyet Surabaya senilai Rp 10 juta untuk acara buka puasa bersama di Masjid Tegalsari.
"Alhamdulillah hari ini kita dapat sumbangan 400 kotak nasi Ayam Penyet Surabaya dari Pak Haji Puspo Wardoyo," ungkap Amin dengan penuh syukur.
Puspo Wardoyo memang dikenal sebagai sosok dermawan yang kerap memberikan sumbangan dalam jumlah besar untuk berbagai acara, baik keagamaan, budaya, maupun olahraga.
Melalui sumbangan ini, ia ingin berbagi kebahagiaan dan keberkahan di bulan Ramadan. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari amal dirinya, yang berpandangan bahwa bersedekah itu pahalanya sama dengan jihad fisabilillah
Sumbangan ini pun disambut dengan antusias oleh jamaah Masjid Tegalsari.
Salah seorang jamaah bernama Rofiq, mengaku sangat menikmati menu Ayam Penyet Surabaya.
"Kalau makanan dari Wong Solo memang terkenal enak. Dan yang paling saya suka itu sambalnya. Rasa pedasnya mantap," ujarnya sambil terus melahap makanannya.
Dukung Acara Madang Gedhen di Masjid Tegalsari, Bos Wong Solo Group Sumbang Ratusan Nasi Kotak Ayam Penyet Surabaya https://t.co/TciraWL2Iv
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) March 21, 2025
Amin, mewakili pengurus Masjid Tegalsari, menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada Puspo Wardoyo atas sumbangan yang diberikan.
"Terima kasih Pak Puspo. Semoga sumbangan ini bisa membawa berkah untuk Pak Puspo dan keluarganya. Serta semoga ke depannya kita bisa saling bekerja sama untuk memberi manfaat bagi umat," pungkasnya. //Bang